Tips dan Cara Mudah Budidaya Lobster Air Tawar di Rumah
Suka
menkonsumsi lopster, atau hanya suka dengan bentuknya saja yang unik???
Bagaimana jika mencoba memelihara atau membudidayaknnya di air tawar??
Wah pasti jadi aktivitas baru yang menguntungkan pastinya. Sebenarnya
ada cukup banyak jenis lobster air tawar. Namun pada kali ini kita akan
berbagi pengetahuan mengenai budidaya lobster air tawar (cherax
quadricarinatus) atau lebih familiar disebut dengan redclaw, karena
ketika dewasa lobster tersebut terdapat warna merah pada capit bagian
luarnya. Terutama akan sangat terlihat jelas pada jenis pejantan.
Umumnya untuk membedakan antara jenis betina dan jantan, adalah
dengan melihat warna capitnya. Jika ada warna merahnya, berarti lobster
tersebut jantan. Lobster jenis air tawar ini sangat mudah untuk
dipelihara dan dibudidaya. Karena jenis ini sangat kuat hidup di
berbagai kondisi. Dan jenis ini termasuk omnivora, karena jenis ini
selain makan pur, lobster jenis ini juga doyan makan tumbuh-tumbuhan
seperti eceng godok. Bahkan terkadang ketika diberi nasi pun akan
dimakan.
Untuk membudidayakan lobster ini sebenarnya sangat mudah. Tergantung
ingin pake cara profesional atau cara rumahan. Kali ini yang akan kita
tunjukkan adalah cara budidaya skala rumahan, sebab dengan cara rumahan
tak perlu menggunakan lahan yang luas dan tentunya biaya juga sidikit.
Cara budidaya lobster yaitu:
Sediakan terpal untuk kolam/ plastik yang cukup tebal
Pastikan lokasi di sekitar rumah yang kontur tanahnya rata dan
usahakan lokasi tersebut tak terlalu banyak terkena sinar matahari namun
jangan sampai pula tak ada cahaya mataharinya, bisa dibilang cahaya
mataharinya cukup.
Buatlah kolam dengan media terpal/ plastik dengan ukuran 1 m x 2 m dengan tinggi kolam sekitar 80 cm.
Selanjutnya Isi dengan air bersih dengan ketinggian air skitar 60
cm, tinggi air jangan sampai sesuai dengan tinggi kolam karena lobster
bisa kabur. Jadi usahakan ketinggian air kurang 10-30 cm dari tinggi
kolam.
Masukanlah eceng gondok/ sejenisnya, karena lobster sangat menyukai tanaman tersebut.
Kemudian masukan lobsternya, usahakan jenis betina lebih banyak dari jenis pejantan.
Ketika lobster betina sudah terlihat mempunyai telur maka segera
dipisahkan ke kolam lain. Sebab lobster termasuk kanibal. Biarkan si
betina menetaskan telurnya pada kolam terpisah.
Jika telur telah menetas, pindahkan betina tersebut dari kolam penetasan.
Berilah makan secara rutin anak lobster tersebut. Dan sekitar beberapa bulan kemudian, lobster tersebut akan tumbuh dewasa.
Membudidayakan lobster skala rumahan memang tergolong mudah, karena
dengan jumlah yang terbatas pasti akan lebih ringan dari segi perawatan.
Tak ada salahnya juga jika dirasa prospeknya bagus untuk membuat kolam
yang lebih banyak lagi. Untuk bisa berhasil dalam budidaya lobster ini,
cobalah dari yang sedikit dulu, lalu kembangkan dengan jumlah yang lebih
banyak. Semoga sukses.
Selasa, 23 Juli 2013
Migrasi Ikan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya
Migrasi Ikan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya
Migrasi ikan adalah adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat
ke tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi
alam yang menguntungkan untuk eksistensi hidup dan keturunannya. Ikan
mengadakan migrasi dengan tujuan untuk pemijahan, mencari makanan dan
mencari daerah yang cocok untuk kelangsungan hidupnya. Migrasi ikan
dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor eksternal (berupa faktor
lingkungan yang secara langsung atau tidak langsung berperan dalam
migrasi ikan) maupun internal (faktor yang terdapat dalam tubuh ikan).
Faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi:
Faktor Eksternal
- Bimbingan ikan yang lebih dewasa
Ikan mampu melakukan migrasi untuk kembali ke daerah asal karena adanya bimbingan dari ikan yang lebih tua.
Contoh: migrasi ikan herring Norwegia atau ikan Cod laut Barents, ikan
lebih tua cenderung tiba di tujuan lebih dulu dari pada ikan muda
- Bau perairan
Ikan anadromous mampu bermigrasi ke daerah asal dengan melalui beberapa
cabang sungai, kemampuan memilih cabang sungai yang benar diduga
dilakukan dengan mengenali bau-bauan bahan organik yang terdapat dalam
sungai.
Contoh: Ikan salmon mampu mengenali bau morpholine dengan konsentrasi 1 x
10-6ppm, jika suatu cabang sungai diberi larutan morpholine, maka ikan
salmon akan masuk ke cabang sungai tadi. Hal ini menunjukkan bahwa ikan
menggunakan indera pencium untuk bermigrasi ke daerah asalnya.
- Suhu
Fluktuasi suhu dan perubahan geografis merupakan faktor penting yang
merangsang dan menentukan pengkonsentrasian serta pengelompokkan ikan.
Suhu akan mempengaruhi proses metabolisme, aktifitas erakan tubuh dan
berfungsi sebagai stimulus saraf.
Contoh: suhu permukaan yang disukai ikan cakalang berkisar 160-260C,
sedangkan suhu tinggi merupakan faktor penghambat bagi ikan salmon untuk
bermigrasi (pada suhu 240C tidak ada ikan salmon yang bermigrasi).
- Salinitas
Ikan cenderung memilih medium dengan salinitas yang lebih sesuai dengan
tekanan osmotik tubuh mereka masing-masing. Perubahan salinitas akan
merangsang ikan untuk melakukan migrasi ke tempat yang memiliki
salinitas yang sesuai dengan tekanan osmotik tubuhnya.
Contoh: Seriola qiuqueradiata menyukai medium dengan salinitas 19 ppt,
sedangkan ikan cakalang menyukai perairan dengan kadar salinitas 33-35
ppt.
- Arus pasang surut
Arus akan mempengaruhi migrasi ikan melalui transport pasif telur ikan
dan juvenil dari daerah pemijahan menuju daerah asuhan dan mungkin
berorientasi sebagai arus yang berlawanan pada saat spesies dewasa
bermigrasi dari daerah makanan menuju ke daerah pemijahan. Ikan dewasa
yang baru selesai memijah juga memanfaatkan arus untuk kembali ke daerah
makanan. Pasang surut di perairan menyebabkan terjadinya arus di
perairan yang disebut arus pasang dan arus surut.
- Intensitas cahaya
Perubahan intensitas cahaya sangat mempengaruhi pola penyebaran ikan,
tetapi respon ikan terhadap perubahan intensitas cahaya dipengaruhi oleh
jenis ikan, suhu dan tingkat kekeruhan perairan. Ikan mempunyai
kecenderungan membentuk kelompok kecil pada siang hari dan menyebar pada
malam hari.
- Musim
Musim akan mempengaruhi migrasi vertikal dan horisontal ikan, migrasi
ini kemungkinan dikontrol oleh suhu dan intensitas cahaya. Ikan pelagis
dan ikan demersal mengalami migrasi musiman horisontal, mereka biasanya
menuju ke perairan lebih dangkal atau dekat permukaan selama musim panas
dan menuju perairan lebih dalam pada musim dingin.
- Matahari
Ikan-ikan pelagis yang bergerak pada lapisan permukaan yang jernih
kemungkinan besar menggunakan matahari sebagai kompas mereka, tetapi hal
ini mungkin tidak berlaku bagi ikan-ikan laut dalam yang melakukan
migrasi akibat pengaruh musim.
- Pencemaran air limbah
Pencemaran air limbah akan mempengaruhi migrasi ikan, penambahan
kualitas air limbah dapat menyebabkan perubahan pola migrasi ikan ke
bagian hulu sungai.
Contoh: ikan white catfish pada musim pemijahan banyak terdapat didaerah
muara, padahal biasanya ikan ini memijah di hulu sungai. Tetapi migrasi
mereka terhalang oleh air limbah di hulu sungai.
Faktor Internal
- Kematangan gonad
Kematangan gonad diduga merupakan salah satu pendorong bagi ikan untuk
melakukan migrasi, meskipun bisa terjadi ikan-ikan tersebut melakukan
migrasi sebagai proses untuk melakukan pematangan gonad.
- Kelenjar-kelenjar internal
Migrasi ikan Cod di laut Barent dikontrol oleh kelenjar tiroid yang
berada di kerongkongan, kelenjar tersebut aktif pada bulan September
yang merupakan waktu pemijahan ikan Cod.
- Insting
Ikan mampu menemukan kembali daerah asal mereka meskipun sebelumnya ikan
tersebut menetas dan tumbuh di daerah yang sangat jauh dari tempat
asalnya dan belum pernah melewati daerah tersebut, kemampuan ini diduga
berasal dari faktor insting.
- Aktifitas renang
Aktifitas renang ikan meningkat pada malam hari, kebanyakan ikan
bertulang rawan (elasmobranch) dan ikan bertulang keras (teleost) lebih
aktif berenang pada malam hari daripada di siang hari.
Pola distribusi, migrasi, daya pulih dan daya adaptasi ikan terhadap
perubahan lingkungan merupakan landasan bagi upaya pelestarian
sumberdaya ikan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan
jumlah beban masukan bahan organik maupun inorganik ke suatu perairan
agar tidak melebihi daya adaptasi dan mengganggu siklus hidup suatu
jenis ikan.
Memetik Manfaat dari Migrasi Otak Encer
Minggu, 16 Agustus 2009 – 11:39 wib
“KEMITRAAN dan kerja sama global terus kita kembangkan. Hubungan dan
kerja sama antarbangsa harus berada dalam konteks yang saling
menguntungkan dan berkeadilan. Prinsip ini harus kita pegang teguh, baik
dalam lingkup hubungan dan kerja sama regional maupun global. Kerja
sama dan kemitraan antarbangsa juga harus tetap mengedepankan
kepentingan nasional.” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rapat
Paripurna DPR RI, 14 Agustus 2009.
Alkisah, beberapa nelayan Madura ditangkap di perairan Australia.
Saat di ruang pengadilan, hakim bertanya mengapa nelayan tersebut
mencuri ikan-ikan Australia. Dengan jujur dan polos sang nelayan
menjawab, “Yang Mulia, kami tidak berniat mencuri ikan milik rakyat
Australia, mencuri adalah pekerjaan terkutuk. Kami hanya mengejar,
berupaya menangkap, dan membawa pulang ikan-ikan kami yang berenang ke
perairan Australia.”
Anekdot ini terkesan mengolok-olok orang Madura. Namun, jika kita
mencermatinya dengan kepala dingin dan hati terbuka, kita akan
terkagum-kagum dengan pengetahuan para nelayan itu yang seolah sudah
paham betul akan fenomena migrasi ikan.
Para ilmuwan sudah lebih dari satu dekade melakukan debat ilmiah
untuk mengenali pola migrasi ikan-ikan khususnya tuna, baik tuna sirip
biru, sirip kuning, dan mata besar. Migrasi tuna ini terjadi di laut
Pasifik, Atlantik, dan Samudera Hindia. Banyak faktor yang memicu debat
ilmiah ini.
Ada yang berdalih mencari tahu dan menjawab keingintahuan ilmuwan
biologi akan perilaku tuna yaitu mencari tahu jenis dan pola pakan,
beranak-pinak, dan predator. Ada pula yang memandang dari fisika statik
seperti salinitas dan temperatur dan dinamika air laut seperti pola arus
laut sebagai faktor penentu migrasi.
Bahkan shusiyang semula hanya makanan khas orang Jepang namun
kemudian merebak ke segala penjuru dunia ikut ambil bagian dalam debat
seputar migrasi tuna ini mengingat salah satu bagian penting dari shusi
adalah ketersediaan tuna berkualitas tinggi dan segar. Berbagai metode
studi dan riset serta instrumen ukur dikembangkan untuk memahami
fenomena migrasi tuna ini.
Diskusi dan debat ilmiah ini yang kemudian memberi pengertian
bagaimana perilaku migrasi tuna ini. Di kawasan mana tuna bertelur dan
membesarkan turunannya, ke mana migrasi dan kapan waktu tuna ini
bermigrasi sudah mulai dipahami. Pemahaman ini kemudian menyadarkan kita
bahwa tuna tidak tepat dibudidayakan di satu tempat saja. Migrasi
adalah pola hidup alamiah tuna.
Tidak ada batas laut sampai batas negara yang membatasi gerak migrasi
tuna ini. Tantangan bagi kita menerima fakta ini dan mencari
alternatif-alternatif untuk disepakati secara global, alternatif yang
memberi keuntungan terbaik bagi kita dari migrasi tuna melanglang lintas
laut dan Samudera. Keadilan dan keberlanjutan tentu dijadikan nilai
luhur dalam pemilihan alternatif eksploitasi tuna. Jika tidak, kepunahan
akan mengancam populasi tuna yang lezat dan bergizi ini.
Brain Drain, Menjadi Perhatian Dunia dan Musuh Bersama
Fenomena yang serupa dengan migrasi tuna ini juga terjadi pada kita.
Kesepakatan mengakhiri Perang Dunia II telah menciptakan situasi yang
kondusif bagi beberapa negara untuk membangun sosioekonominya. Terjadi
pertumbuhan yang pesat di beberapa negara.
Sementara itu beberapa negara lain tertinggal bahkan terperangkap
dalam kemiskinan dan ada juga yang mengalami pertikaian dan perebutan
kekuasaan dalam negeri. Terjadi beda potensi ekonomi dan sosio-politik.
Perbedaan potensi ini memicu perpindahan khususnya ilmuwan yang migrasi
dari satu negara ke negara lain.
Migrasi ilmuwan ini yang kemudian menjadi isu global dan dikenal
sebagai fenomena brain drain, yaitu para otak encer lari dari negara
aslinya dan mengadu untung di negara lain yang dipandang lebih
menjanjikan baik dari ukuran kesempatan menyalurkan kreativitas dan
inovasi bahkan ada juga yang hijrah karena menengok fatamorgana
ketenangan hidup di seberang sana.
Penggunaan istilah brain drain yang dalam kosakata kita berarti kuras
otak jelas bermakna negatif yaitu kerugian yang dialami yaitu
berkurangnya jumlah orang pintar oleh negara di mana sang otak encer
berasal. Tudingan ketimpangan atau ketidakadilan menjadi tantangan
dunia.
Tak pelak, Kofi Annan yang kemudian digantikan Bang Kiimoon sebagai
Sekjen PBB berteriak lantang untuk menghentikan fenomena brain drain
yang merugikan ini. Beberapa artikel yang mengupas misalnya berjudul
Bolivarian Brain Drain yaitu fenomena kuras otak yang bergejolak di
negara- negara Amerika Latin.
Pemimpin fenomenal seperti Hugo Chavez berdiri di depan dan berteriak
keras mengingatkan dunia akan ketidakadilan pada negara-negara Amerika
Latin. Begitu juga artikel berjudul Shanghai Brain Drain dan African
Brain Drain. Sejak krisis Asia di 1998 yang juga membuat Indonesia
sengsara, kita sering mendengar, membaca, dan melihat tayangan seputar
fenomena brain drain ini di Tanah Air.
Beberapa di antaranya eksodus ahli dirgantara ke pabrik-pabrik di
Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, USA, Brasil, dan Canada; hengkangnya
ahli nuklir ke Eropa, Asia, dan Amerika; juara-juara Olimpiade Iptek
yang mendapat tawaran beasiswa menggiurkan dari negara tetangga;
berbondongnya dosen dan peneliti ke Negara Jiran.
Menarik menyimak penggalan pidato Shimon Perez saat mengulas fenomena
brain drain, yaitu “Historically, wars between nations, and later
between people, have always been about land and its appropriation. Now
that the land is generally distributed, a new type of war has appeared,
the war about technology and its control. This is, I believe, the new
threat for the upcoming century “.
Pengembangan dan penguasaan teknologi yang disebut Shimon Perez ini
ditengarai sebagai pemicu terjadinya mobilitas otak encer. Di era
globalisasi ini teknologi dijadikan senjata pamungkas dalam memosisikan
diri bagi suatu negara penjadi pemain utama. Terjadi perlombaan yang
tidak adil yang menjadikan yang kuat ekonominya semakin kuat
teknologinya.
Tanpa kemampuan mengembangkan dan menguasai teknologi telah berakibat
pada terciptanya suatu kondisi sebagai konsumen semata bahkan memaksa
menjadi tamu di negaranya sendiri. Ketimpangan menjadi pemantik
terjadinya kecemburuan sosial bahkan menjurus pada ketegangan politik
antarnegara. Independensi dan keadilan yang menjadi nilai luhur PBB
tertantang oleh fenomena brain drain ini.
Manfaat Migrasi Otak Encer
Beberapa negara ada yang dengan sengaja mendorong terjadinya
mobilitas orang pintarnya ke negara-negara yang dipandang sebagai sumber
inovasi teknologi. Tengok misalnya bagaimana Jepang, Korea Selatan,
India, dan China memfasilitasi ilmuwannya ke AS dan Eropa.
Ilmuwan ini diperlakukan sebagai duta besar atau special envoy dengan
misi ikut mengembangkan dan menguasai teknologi. Kemajuan teknologi
yang diikuti kemajuan ekonomi di Korea Selatan, Jepang, India, dan China
tak pelak adalah kontribusi ilmuwan yang hijrah baik sementara atau
selamanya ke negara sumber inovasi.
Walaupun demikian, kebijakan mobilitas ilmuwan ini juga tidak lepas
dari pro dan kontra sosio-politik. Dengan menggunakan kekuatan ekonomi
kemudian beberapa langkah strategis dilakukan dengan tujuan mengambil
manfaat maksimal dari kaum otak encer tersebut.
Menjadikan mereka sebagai duta besar iptek adalah hanya salah satu
cara. Keberadaan ilmuwan di seberang sana akan menjadi pemasok informasi
tangan pertama bagi rekan-rekannya di kampung halaman. Mereka juga
menjadi pembuka peluang dan pembuka jalan mengalirnya investasi dan
devisa.
Membuka peluang, menyediakan fasilitas setara, dan memberi kompensasi
ekstra yang kemudian dipopulerkan dengan istilah reverse brain drain
juga cara yang telah banyak terbukti memberikan manfaat. China, India,
Brasil, dan Pakistan adalah contoh negara-negara yang getol dalam
program reverse brain drain.
Memusuhi dan menuding mereka tidak nasionalis hanya akan memperburuk
situasi dan semuanya akan rugi. Negara dan rakyat tempat asal tidak
mendapat manfaat, ilmuwan yang sedang hijrah semakin enggan pulang dan
tak mau berbagi. Jangan picik menilai mereka sebagai brain drain yang
merugikan tanah leluhurnya, terimalah ini sebagai kenyataan, bukan untuk
dihindari, melainkan untuk dicari hikmah dan manfaatnya.
Penggalan pidato Presiden RI pada Rapat Paripurna DPR RI di atas
adalah sikap positif, mengajak kita untuk membuka pikiran dan mencari
peluang serta menerima globalisasi sebagai strategi kerja sama
internasional – orang per orang, institusi per institusi, sampai negara
per negara.
Lebih jauh lagi, Presiden telah mengajak kita mengubah paradigma dari
perangkap mengecam brain drainmenuju mengambil manfaat–brain gain–dari
migrasi otak encer– brain circulation. Presiden Soekarno pernah berujar,
“Biarkan sumber daya alam kita tersimpan di bumi ini sampai saatnya
nanti anak negeri ini mampu menggali dan mengolahnya sendiri”.
Di sini ditekankan betapa pentingnya membuat anak negeri memiliki
kemampuan yang mumpuni. Hijrah ke mancanegara adalah upaya efektif untuk
meningkatkan kemampuan anak negeri. Pemberian kesempatan (affirmative
action) menggali dan mengolah kekayaan zamrud khatulistiwa adalah
pengejawantahan dari reverse brain drain.
Sebagai penutup, mari samasama menyimak hipotesa: Indonesia hanya
akan maju teknologinya dan ekonominya jika terdapat cukup jumlah otak
encer anak negeri yang berkarier dan berkarya di mancanegara. Buka
peluang agar 10% dari otak encer negeri ini berkompetisi dalam sirkuit
internasional, brain circulation. Jangan biarkan kita terperangkap dan
terkecoh oleh tudingan brain drain.(*)
Nama ziddu mungkin sudah tidak
terdengar asing lagi, karena banyak yang menggunakan layanan ini. Selain
gratis, caranyapun cukup mudah.
Nah.. untuk memulai "cara meng-upload file agar bisa di download"
pada blog langkah pertama yang harus dilakukan adalah registrasi terlebih
dahulu di ziddu.
Artemia merupakan pakan alami yang sangat dalam pembenian ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena artemia memiliki nilai gizi yang sangat tinggi, serta ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut hampir saluruh jenis larva ikan. Artemia dapat diterapkan diberbagai pembenihan ikan dan udang, baik itu air laut, payau maupun tawar.
Klasifikasi
Menurut bougis (1979) dalam kurniastuty dan isnansetyo (1995) adalah sebagai berikut:
Phylum : Anthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Familia : Artemidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia Salina
Morfologi
Kista Artemia sp, yang ditetaskan pada sanilitas 15-35 ppt akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius. Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masing-masing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo, 2004). Pertama kali menetas larva artemia disebut Instar I.
Nauplius stadia I (Instar I) ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15 mikrongram, berwarna orange kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan berubah menjadi Instar II, Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran pencernaan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah Instar XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius menjadi artemia dewasa (proses Instar I-XV) antara 1-3 minggu(Mukti, 2004).
Pada tiap tahapan perubahan Instar Nauplius mengalami moulting. Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada kedua sisi bagian kepala, antenaberfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antenna berubah menjadi alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada bagian belakang tubuh. Pada jenis betina antenna mengalami penyusutan.
Ekologi
Artemia sp, secara umum tumbuh dengan baik pada kkisaran suhu 25-30 derajat celcius. Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapat ditemui didanau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. untuk artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995).
Reproduksi
Chumaidi et al, (1990) menyatakan bahwa perkembangan artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi.
Penetasan Cystae Artemia
Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan cystae artemiaddapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan penetasan langsung dan penetasan dengan cara dekapsulasi. Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio.
Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum dgunakan pada panti-panti benih, namun untuk meningkatkan daya tetas dan menghilangkan penyakit yang dibawah oleh cytae artemia, cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Pramudjo dan Sofiati, 2004).
Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah penetasan dengan cara dekapsulasi, sebagai berikut:
1.Cystae artemia dehidrasi dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam;
2.Cystae disaring menggunakan plangkton net 120 mikronm dan dicuci bersih;
3.Cystae dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram cystae, kemudian diaduk hingga warna menjadi merah bata;
4.Cystae segera disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan;
5.Cystae akan menetas setelah 18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara memetikan aerasi untuk memisahkan cytae yang tidak menetas denagan naupli artemia.
Pramudjo dan Sofiati (2004) cystae hasil dekapsulasi dapat segera digunakan (ditetaskan) atau disimpan dalam suhu 0 derajat celcius sampai 4 derajat celcius dan digunakan sesuai kebutuhan.
Dalam kaitannya dengan proses penetasan Chumaidi et al (1990) mengatakan kista setelah dimasukan kedalam air laut (5-70 ppt) akan mengalami hidrasi berbentuk bulat dan didalamnya terjadi metabolisme embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudian cangkang kista pecah dan muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Pada saat ini panen segera akan dilakukan.
Pengayaan Artemia
Pengayaan (enrichment) artemia dengan menggunakan beberapa jenis pengkaya misalnya scout emultion, selco dan vitamin C dan B kompleks powder dilakukan selama 2 jam (Suriawan,2004).
Selanjutnya diperjelas oleh Subyakto dan Cahyaningsi (2003) bahwa pengayaan pakan alami menggunakan minyak ikan, minyak cumi-cumi, vitamin ataupun produk komersial lainnya yang membutuhkan waktu 2-4 jam untuk mendapatkan hasil yang baik. Artemia yang akan dilakukan pengayaan adalah yang baru menetas (nauplius) (Mukti, 2004).
BBAP Situbondo (2004) mencatat bahwa pemberian vitamin C dengan cara pengayaan dengan dosis 0,1 – 0,5 ppm pada media pengayaan artemia dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva kerapu. Syaprizal (2006) juga memperoleh hasil dengan pengayaan vitamin C sebanyak 2 mg/1 ke artemia dapat meningkatkan kelulusan hidup benur udang windu dan diperoleh kemungkinan adanya kelulusan hidup lebih tinggi dengan penambahan dosis vitamin C.
Artemia Salina (BRINE SHRIMP)
Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum Arthopoda. Mereka berkerabat dekat dengan zooplankton lain seperti copepode dan daphnia (kutu air). Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada di seluruh dunia. Udang ini toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga jenuh garam. Secarah alamiah salinitas danau dimana mereka hidup sangat bervariasi, pada jumlah hujan dan penguapan yang terjadi. Apabila kadar garam kurang dari 6% telur artemia akan tenggelam sehingga telur tidak bisa menetas, hal ini biasanya terjadi apabila air tawar banyak masuk kedalam danau dimusim penghujan. Sedangkan apabila kadar garam lebih dari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi, sehingga dapat menetas dengan normal.
Kista tertua artemia pernah ditemukan oleh suatu perusahaan pemboran yang bekerja disekitar danau “salt great”. Kista tersebut diduga berusia sekitar lebih dari 10000 tahun ( berdasarkan metode “carbon dating”). Setelah diuji, ternyata kista-kista tersebut masih bisa menetas walaupun usianya telah lebih dari 10000 tahun.
Siklus Hidup
Siklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista dan telur. Setelah 15-20 jam pada suhu 250C kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian menjadi naupli yang sudah akan berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange kecklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang akan menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum berbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki fase larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga, bakteri,dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli ( tidak memilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia di air dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian dalam kondisi yang pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. pada kondisi demikian biomasnya akan mencapai 500 kali dibandingkan bimas pada fase naupli.
Dalam tingkat salinitas rendah dan denganpakan yang optimal, betina artemia bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi super ideal, artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi naupli atau kista sebanyak 300 ekor (butir) per4hari. Kista akan terbentuk apabila limgkungannya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakan sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang danmalam hari.
Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu- 18 hingga 400C. sedangkan temperatur optimal untuk penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25-300C. meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30-35ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar selama lima jam sebelum akhirnya mati.
Variable lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunu artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka. Lampu standar grouw-lite sudah cukup untuk keperluan hidup artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan artemia. Dengan suplai oksigen yang baik, artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabilah mereka banyak mengkonsumsi mikro algae. Pada kondisi yang ideal seperti ini, atemia akan tumbuh dan beranak-pinak dengan cepat. Sehingga suplai artemia untuk ikan yang kita pelihara bisa terus berlanjut secara continyu. Apabilah kadar oksigen dalam air renda, dan air banyak mengandung bahan organik, atau apabialah salinitas meningkat, artemia akan memakan bacteria, detritus, dan sel-sel khamir ( yeast). Pada kondisi demikian meraka akan memproduksi hemoglobin sehingga tampak berwarna merah atau orange. Apabilah keadaan ini terus berlanjut meraka akan mulai memproduksi kista.
Penetasan Kista Artemia
Kista artemia dapat ditetaskan secara optimal, apabila syarat-syarat yang diperlukannya dapat dipenuhi. Beberapa syarat tersebut adalah:
a.Salinitas antara 20-30 ppt (parts per thousand) atau 1-2 sendok teh garam perliter air tawar.
b.Untuk buffer bisa ditambahkan magnesium sulfate (20% konsentrasi) atau ½ sendok the per liter air.
c.Suhu air 26-280C.
d.Memberikan sinar selama penetasan untuk merangsang proses.
e.Aerasi yang cukup, untuk menjaga oksigen terlarut sekitar 3 ppm pH 8.0 atau lebih, apabila pH drop dibawah 7.0 dapat ditambahkan soda kue untuk menaikan pH.
f.Kepadatan sekitar 2 gram per liter.
g.Sebelumnya dapat dilakukan dekapsulisasi untuk melunakan cangkang.
Dekapsulisasi dapat meningkatkan presentase keberhasilan sampai dengan 10%. Penetasan dapat dilakukan pada semua jenis wadah. Untuk mempermudah “pemanenan” penetasan bisa dilakukan dalam akuariu berbentuk prisma terbalik, atau berdasarkan prinsip”kamar gelap dan terang”. Pemanenen paling mudah dilakukan dengan cara di siphon.
Dekapsulisasi
Dekapsulisasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kista artemia yang “keras” (korion). Proses ini setidaknya akan mempermudah “bayi” artemia untuk keluar dari “sarangnya”nya, kista yang telah didekapsulisasi masih bisa diberikan kepada ikan/burayak dengan aman, karena korionnya sudah hilang, sehingga akan dapat dicernah dengan mudah. Disamping itu proses ini juga sekaligus merupakan proses disinfeksi terhadadap kontaminan seperti bakteri, jamur dll.
Bahan yangdiperlukan adalah larutan pemutih/bleaching agent (natrium hipoklorit) 12.5%. kalau anda menggunakan produk komersial, pastikan kosentrasi dan kemungkinan adanya kandungan bahan lain. Untuk ilustrasi berikut saya berikan contoh cara untuk melakukan dekapsulisasi kista artemia sebanyak 5 gram.
Rendam 5 gram kista artemia (kurang lebih 1.5 sendok teh) dalam 400 ml air tawar, beri aerasi, dan biarkan selama 1-2 jam, hingga kista tersebut mengalami hidrasi dengan baik. Hal iniditandai dengan bentuk kista yang sudah membentuk bulatan sempurna. Kemudian tambahkan larutan pemutih sebanyak 27 ml. penambahan pemutih akan menyebabkan kista berubah warna menjadi coklat kemudian menjadi putih dalam waktu kurang lebih 2 menit. Selanjutnya dalam 5-7 menit kista akan berubah warna menjadi orange. Apabila 95% kista telah berwarna orange hentikan reaksi; kemudian segera cuci dengan air bersih sampai bau klorin hilang.
Kista sekarang siap ditetaskan atau bisa disimpan dalam kulkas untuk selama 1 minggu. Apabila akan disimpan lebih lama, kista perlu didehidrasi kembali dengan menggunakan larutan garam 30%. Setelah didehidrasi, kista dapat disimpan dalam kulkas untuk selama 2-3 bulan.
Sedimentasi Adalah pengendapan material hasil erosi karena kecepatan tenaga media pengangkutnya berkurang. Macam sedimentasi adalah (1)Sedimentasi akuatis yaitu sedimentasi dari materi yang diangkut oleh air sungai, mengakibatkan timbulnya meander sungai, datran banjir, tanggl alam, delta dan bantaran sungai. (2)sedimentasi aedis yang terjadi karena pengendapan materi yang diangkut oleh angin, proses ini menyebabkan timbunya gumuk pasir yang menyerupai bulan sabit (barkhan) dan memanjang (whale buck). Dan (4) sedimentasi glacial yang terjadi akibat pengikisan oleh gletser pada musim semi, yang mengakibatkan lembah berbentuk V berubah menjadi U.
Sedimentasi (geology) adalah proses pengendapan material padat dari kondisi tersuspensi atau terlarut dalam suatu fluida (biasanya air atau udara).
Definisi yang luas menurut Encyclopeia Britannica ini, selain meliputi endapan yang diendapkan oleh fluida yang mengalir (aliran air atau aliran udara), juga mencakup endapan gletser es, dan endapan talus atau akumulasi debris atau fragmen batuan di kaki tebing yang digerakkan oleh gravitasi.
Secara sederhana, menurut Merriam-Webster Online, sedimentasi adalah proses pembentukan atau pengendapan sedimen.
Sementara itu, sedimen didefinisikan secara luas sebagai material yang diendapkan di dasar suatu cairan (air dan udara), atau secara sempit sebagai material yang diendapkan oleh air, angin, atau gletser / es.
Lingkungan Pengendapan
Dampak Sedimentasi terhadap Kualitas Perairan
Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan DTA untuk pertanian, pertambangan dan pengembangan permukiman merupakan sumber sedimen dan pencemaran perairan danau. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan danau dapat meningkatkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menjadi turun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makan (Haryani, 2001).
Sedimen yang dihasilkan oleh proses erosi akan terbawa oleh aliran dan diendapkan pada suatu tempat yang kecepatannya melambat atau terhenti. Proses ini dikenal dengan sedimentasi atau pengendapan. Asdak (2002) menyatakan bahwa sedimen hasil erosi terjadi sebagai akibat proses pengolahan tanah yang tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi pada daerah tangkapan air di bagian hulu. Kandungan sedimen pada hampir semua sungai meningkat terus karena erosi dari tanah pertanian, kehutanan, konstruksi dan pertambangan.
Hasil sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang terjadi di daerah tangkapan air yang dapat diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Hal ini biasanya diperoleh dari pengukuran padatan tersuspensi di dalam perairan danau.
Berdasarkan pada jenis dan ukuran partikel-partikel tanah serta komposisi
bahan, sedimen dapat dibagi atas beberapa klasifikasi yaitugravels (kerikil),
medium sand(pasir), silt(lumpur), clay (liat) dan dissolved material(bahan
terlarut)Ukuran partikel memiliki hubungan dengan kandungan bahan organic
sedimen.
Sedimen dengan ukuran partikel halus memiliki kandungan bahan
organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan sedimen dengan ukuran partikel
yang lebih kasar. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang, sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan. Pada sedimen kasar, kandungan bahan organik biasanya rendah karena partikel yang halus tidak mengendap. Selain itu, tingginya kadar bahan organic pada sedimen dengan ukuran butir lebih halus disebabkan oleh adanya gaya kohesi (tarik menarik) antara partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi lendir organisme (Wood, 1997).
Lingkungan Pengendapan ESTUARIA
Sedimen merupakan tempat tinggal tumbuhan dan hewan yang ada di dasar. Sedimen terdiri dari bahan organik yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang membusuk kemudian tenggelam ke dasar dan bercampur dengan lumpur dan bahan anorganik yang umumnya berasal dari pelapukan batuan (Sverdrup, 1966). Kebanyakan perairan pesisir didominasi oleh substrat lunak. Substrat lumpur berasal dari sedimen yang terbawa oleh sungai ke perairan pesisir.
Claphman (1973) menyatakan bahwa air sungai mengangkut partikel Lumpur dalam bentuk suspensi, ketika partikel mencapai muara dan bercampur dengan air laut, partikel lumpur akan membentuk partikel yang lebih besar dan mengendap di dasar perairan.
Sedimen estuaria adalah secara fisiologis merupakan lingkungan yang kaku untuk kebanyakan invertebrata karena range kadar garamnya ( 14±30 0/00), fluktuasi temperatur dan pasang surut. Banyak spesies yang umum digunakan dalam pengujian toksisitas di perairan laut dan tawar, tidak sesuai untuk mengukur toksisitas sedimen di estuaria karena toleransi kadar garam yang sempit atau tidak ada spesies endemik di estuaria.
Sedimen laut menurut asalnya diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitulythogenous,biogenous danhydrogenous.Lythogenous adalah sediment yang berasal dari batuan, umumnya berupa mineral silikat yang berasal dari pelapukan batuan.Biogenous adalah sedimen yang berasal dari organisme berupa sisa-sisa tulang, gigi atau cangkang organisme, sedangkanhydrogenous merupakan sedimen yang terbentuk karena reaksi kimia yang terjadi di laut
(Hutabarat dan Stewart, 1985).
Karakteristik sedimen akan mempengaruhi morfologi, fungsional, tingkah laku serta nutrien hewan benthos. Hewan benthos seperti bivalva dan gastropoda beradaptasi sesuai dengan tipe substratnya. Adaptasi terhadap substrat ini akan menentukan morfologi, cara makan dan adaptasi fisiologis organisme terhadap suhu, salinitas serta faktor kimia lainnya (Razak, 2002). Disamping tipe substrat, ukuran partikel sedimen juga berperan penting dalam menentukan jenis benthos laut (Levinton, 1982).
Partikel sedimen mempunyai ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kasar sampai halus. Menurut Buchanan (1984) berdasarkan skala Sedimen terdiri dari beberapa komponen bahkan tidak sedikit sediment yang merupakan pencampuran dari komponen-komponen tersebut. Adapun komponen itu bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan geologi dasar (Forstner dan Wittman, 1983). Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat.
Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami pengendapan, pengenceran dan dispersi, kemudian diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Pengendapan logam berat di suatu perairan terjadi karena adanya anion karbonat hidroksil dan klorida (Hutagalung, 1984).
Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibanding dalam air (Hutagalung, 1991)
Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen, oleh karena itu kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air (Harahap, 1991).
Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga kelompok utama batuan (bersama dengan batuan beku dan batuan metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan (precipitation) dari larutan. Jenis batuan umum seperti batu kapur, batu pasir, dan lempung, termasuk dalam batuan endapan. Batuan endapan meliputi 75% dari permukaan bumi.
Manfaat Batuan Sedimen. Untuk bahan dasar bangunan (gypsum), bahan bakar (batu bara), Pengeras jalan (batu gamping), Pondasi rumah (batu gamping), dll.
Konsentrasi logam berat pada sedimen tergantung pada beberapa faktor
yang berinteraksi. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Sumber dari mineral sedimen antara sumber alami atau hasil aktifitas
manusia.Melalui partikel pada lapisan permukaan atau lapisan dasar sedimen.
2. Melalui partikel yang terbawa sampai ke lapisan dasar.
3. Melalui penyerapan dari logam berat terlarut dari air yang bersentuhan.
Beberapa material yang terkonsentrasi di udara dan permukaan air mengalami oksidasi, radiasi ultraviolet, evaporasi dan polymerisasi. Jika tidak mengalami proses pelarutan, material ini akan saling berikatan dan bertambah berat sehingga tenggelam dan menyatu dalam sedimen. Logam berat yang diadsorpsi oleh partikel tersuspensi akan menuju dasar perairan, menyebabkan kandungan logam di air menjadi lebih rendah. Hal ini tidak menguntungkan bagi organisme yang hidup di dasar sepertioys ter dan kepiting sebagai filter feeder, partikel sedimen ini akan masuk ke dalam sistem pencernaannya (Williams, 1979).
Logam berat yang masuk ke sistem perairan, baik di sungai maupun lautan akan dipindahkan dari badan airnya melalui tiga proses yaitu pengendapan, adsorbsi, dan absorbsi oleh organisme-organisme perairan (Bryan, 1976).
Proses pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya.
Pengendapan oleh air
Batuan hasil pengendapan oleh air disebut sedimen akuatis. Bentang alam hasil pengendapan oleh air, antara lain meander, dataran banjir, tanggul alam dan delta.
a. Meander
Meander merupakan sungai yang berkelok - kelok yang terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai dimulai dari sungai bagian hulu. Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk juga kecil. Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan.
Pada bagian tengah, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungi, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepi sungai yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan. Apabila hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander.
Meander biasanya terbentuk pada sungai bagian hilir, dimana pengikisan dan Pengendapan
terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan terpisah dari aliran sungai, Sehingga terbentuk oxbow lake.
b. Delta
Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan Lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama, akan terbentuk lapisan - lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sediment membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta.
Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen yang dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau. Kedua, arus panjang di sepanjang pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai harus dangkal. Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas.
c. Dataran banjir dan tanggul alam
Apabila terjadi hujan lebat, volume air meningkat secara cepat. Akibatnya terjadi banjir dan meluapnya air hingga ke tepi sungai. Pada saat air surut, bahan yang terbawa oleh air sungai akan terendapkan di tepi sungai. Akibatnya, terbentuk suatu Dataran di tepi sungai. Timbulnya material yang tidak halus (kasar) terdapat pada tepi sungai. Akibatnya tepi sungai lebih tinggi dibandingkan dataran banjir yang terbentuk. Bentang alam itu disebut tanggul alam.
Pengendapan oleh Air Laut
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine. Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air laut, Antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai.
Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat berfariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang dalam. ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi material itu Disebut spit.
Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang
spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang pantai (barrier
beach).
Terbentuknys split
Apabila di sekitar spit terdapat pulam, biasanya spit akhirnya tersambung
dengan daratan, sehingga membentuk tombolo.
Tombolo
Pengendapan oleh angin
Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin mengangkut dan mengedapkan Pasir di suatu tempat secara bertahap sehingga terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir.
Gumuk pasir
Pengendapan oleh gletser.
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam hasil Pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni lereng dan mengendap di lemah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V menjadi berbentuk U.
Struktur batuan sedimen, kebanyakan sedimen diteransport oleh arus yang akhirnya diendapkan, sehingga ciri utama batuan sedimen adalah berlapis. Batas antara satu lapis dengan lapis lainnya disebut bidang perlapisan. Bidang perlapisan dapat terjadi akibat adanya perbedaan : warna, besar butir, dan atau jenis batuan antara dua lapis. Struktur sedimen lain yang umum dijumpai pada
batuan sedimen adalah lapisan bersusun (granded bedding) dan lapisan silang siur (cross bedding), gelembur gelombang (riplemark), dan rekah kerut (mud cracks). Terjadinya struktur-struktur sedimen tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta lingkungan pengendapan tertentu.
Didalam sedimen umumnya terut terendapkan sisa-sisa organisme atau tumbuhan, yang karena tertimbun,terawetkan. Dan selama proses Diagenesis tidak rusak dan turut menjadi bagian dari batuan sedimen atau membentuk lapisan batuan sedimen. Sisa-sia organisme atau tumbuhan yang terawetkan ini dinamakanfoss i l. Jadi fosill adalah bukti atau sisa-sisa kehidupan zaman lampau. Dapat berupa sisa organisme atau tumbuhan, seperti cangkang kerang, tulang atau gigi maupun jejak ataupun cetakan.
Fasies sedimentasi dapat diartikan sebagai kenampakan atau sifat fisik umum satu bagin sebuah tubuh batuan yang berbeda dari bagian yang lainnya. Dengan mempelajari perbedaan karekteristik pada lapisan-lapisan batuan serta fasiesnya dapat diketahui mekanisme, kondisi dan tempat pengendapan sedimen sebelum menjadi batuan.
Dari studi lingkungan pengendapan dapat digambarkan atau direkontruksi geografi purba dimana pengendapan terjadi. Secara umum dikenal 3 lingkungan pengendapan, lingkungan darat transisi, dan laut. Beberapa contoh lingkungan darat misalnya endapan sungai dan endapan danau, ditransport oleh air, juga dikenal dengan endapan gurun dan glestsyer yang diendapkan oleh angin yang dinamakan eolian. Endapan transisi merupakan endapan yang terdapat di daerah antara darat dan laut seperti delta,lagoon, dan litorial. Sedangkan yang termasuk endapan laut adalah endapan-endapan neritik, batial, dan abisal.
Proses sedimenter meninggalkan tanda(mark) pada batuan sedimen. Tanda ini akan terekam dalam beberapa karakteristik seperti tekstur, struktur, kandungan fosil dan komposisi mineral. Dari beberapa karakteristik tersebut yang terpenting adalah tekstur dan struktur. Tekstur merupakan kanampakan terkecil dari suatu batuan yang meliputi ukuran, bentuk dan orientasi dari individu- individu butir penyusunnya. Struktur sedimen dalam hal ini struktur primer merupakan kenampakan skala besar dari batuan sedimen itu sendiri, seperti
perlapisan, laminasi, perlapisan silang-siur, ripple mark, track, trail dan jejak-jejak
lain yang terbentuk oleh organisme.
Struktur sedimen dihasilkan oleh beberapa macam proses sedimenter, termasuk di dalamnya adalah aliran fluida, aliran gravitasi sedimen, deformasi sedimen lunak dan aktivitas biogenik. Struktur sedimen digunakan secara meluas dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini terbentuk pada tempat dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria yang sangat berguna untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Beberapa aspek lingkungan sedimentasi purba yang dapat dievaluasi dari data struktur sedimen di antaranya adalah mekanisme transportasi sedimen, arah aliran arus purba, kedalaman air relatif, dan kecepatan arus relatif. Selain itu beberapa struktur sedimen dapat juga digunakan untuk menentukan atas dan bawah suatu lapisan.Beberapa tipe struktur sedimen dapat diukur untuk memberikan informasi
tentang asal mula, pengendapan, dan sejarah sedimen. Sebagai contoh perlapisan silang-siur. Struktur ini merupakan struktur sedimen primer yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk arah arus purba atau menentukan arah transportasi sedimen. Dengan mengukur kedudukan perlapisan silang siur dan mengolahnya dengan metode statistika akan didapat arah umum dari perlapisan silang siur yang merupakan arah dari arus purba.
Konsep dasar perlapisan silang siur
Variasi energi selama transportasi sedimen menyebabkan reaksi variabel dari pengendapan selektif ukuran butir tertentu, bentuk butir, dan berat butir sampai erosi dan pembebanan diferensial dari pengendapan sedimen sebelumnya. Pengaruh transportasi dan pengendapan mempunyai sifat skalar yang memperlihatkan kebesaran tanpa menunjukkan arah transportasi, misalnya besar butir, bentuk butir dan lain-lain. Di samping mempunyai sifat skalar, transportasi dan pengendapan juga mempunyai sifat vektor, yaitu besaran yang menunjukkan arah (dalam hal ini arah transportasi), misalnya perlapisan silang-siur, gelembur gelombang, dan lain-lain.
Jadi perlapisan silang siur, adalah struktur sedimen primer yang mempunyai arah. Struktur ini sangat umum dijumpai pada batuan sedimen yang berukuran lanau hingga pasir. Perlapisan silang siur dibentuk oleh arus air/angin yang daya angkut suspensinya semakin berkurang, sehingga muatan suspensinya jatuh dan diendapkan ke muka secara gravity sliding (longsoran gravitasi) dalam bentuk bidang-bidang perlapisan sejajar.
Pada struktur perlapisan silang siur terdapat 3 parameter yang berubah-
ubah menurut tempat dan keadaan, yaitu :
1. Azimut atau arah kemiringan; merupakan fungsi dari arah aliran arus yang
terkuat.
2. Inklinasi, yaitu sudut lancip yang dibentuk oleh bidang fore set dengan bidang perlapisan bottom set (true bedding). Dalam proses sidementasi, sudut-sudut inklinasi merupakan sudut rebah yang besarnya tergantung kepada kekuatan arus. Arus yang kuat akan membentuk sudut inklinasi yang besar.
3. Ketebalan lapisan fore set yang bervariasi tergantung pada banyaknya suspensi yang dibawa oleh arus dan lamanya proses sedimentasi berlangsung.
Metode Analisis
Ada beberapa macam metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan tendensi sentral dari suatu kedudukan perlapisan silang-siur, misalnya diagram mawar (rose diagram) yang pada prinsipnya menggunakan pendekatan modus dan analisis vektor. Mengingat besaran yang terukur pada struktur perlapisan silang- siur merupakan besaran vektor, maka perhitungan tendensi sentralnya dapat didekati dengan metode analisis vektor. Metode analisis vektor ini dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu analisis vektor 2-dimensi dan analisis vektor 3-dimensi.
Analisis Vektor 2-Dimensi
Data azimut perlapisan silang siur diukur dalam jumlah tertentu sesuai dengan kaidah statistika yang berlaku. Untuk menentukan tendensi sentral dari data-data azimuth perlapisan silang-siur dilakukan dengan menghitung besarnya rata-rata dari data tersebut. Besarnya rata-rata dapat dihitung secara vektor(vector
mean) dan secara aritmatika (arithmatic mean). Untuk lebih jelasnya dapat dibaca
pada Davis (1986). Besarnya rata-rata dengan menggunakan analisis vektor 2-D
dapat diturunkan dengan rumus-rumus sebagai berikut :
Misalkan arah tiap-tiap azimuth dari suatu perlapisan silang-siur adalah maka
besaran vektor untuk masing-masing sumbu adalah sbb.:
vektor resultannya adalah:
sedangkan besar sudut resultannya adalah :
Analisis Vektor 3-Dimensi
Berbeda dengan analisis vektor 2-D yang hanya menggunakan azimuth dari perlapisan silang siur, analisis vektor 3-D menggunakan kedudukan bidang perlapisan silang siur sebagai data. Data yang digunakan dalam perhitungan meliputi azimuth dan dip atau kemiringan bidang perlapisan silang-siur.
Perhitungan dengan menggunakan analisis vektor dapat dilakukan dengan menguraikan kedudukan bidang ( , ) secara statistik dapat dilakukan sebagai berikut :